Friday, 9 January 2015

susunan pengurus bkprmi

DEWAN PENGURUS DAERAH BKPRMI KOTA TASIKMALAYA

PERIODE 2014 – 2018


PEMBINA      :

  1. Walikota Tasikmalaya
  2. Ketua DPRD Kota Tasikmalaya
  3. Dandim 0612 Tarumanagara Tasikmalaya
  4. Kepala Kepolisian Resort Tasikmalaya Kota
  5. Kepala Kementerian Agama Kota Tasikmalaya
  6. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Tasikmalaya
  7. Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia Kota Tasikmalaya
  8. Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tasikmalaya

PENASEHAT :

  1. Ketua DKM Masjid Agung Kota Tasikmalaya
  2. Kepala Kesbang Kota Tasikmalaya
  3. KH. Udin Sa’dudin
  4. KH. DR. Muhsin An Syadzili
  5. KH. Acep Nur Mubarok LC
  6. KH. Drs. Undang Ishaq
  7. KH. Drs. H. Didi Hudaya
  8. H. Ahmad Patoni MM
  9. Drs. H. Amarulloh HS
  10. Asep Deni Adnan Bumaeri M.Si
  11. Drs. H. Ade Herman S. M.Si
  12. Drs. Ade Hendar

MAJELIS PERTIMBANGAN DAERAH

Ketua                     : Drs. H. Yeyen Munawar RZ
Anggota                  :
Aj. Kakan Ruskandi S.Ag. S.Pd
Drs. Nono Sumarno
Abdul Manaf Syarifudin M.PdI
Dani Kusdani SE
KH. Misbachudin
KH. Nono Nurul Hidayah
H. Suryana M.Si

DEWAN PENGURUS DAERAH

Ketua Umum                               : Heryanto S.HI
Ketua  Bidang Internal                : Soni Sonagar S.Ag
Ketua Bidang Eksternal              : Mamad Abdul Somad S.HI

Sekretaris Umum                        : Asep Marpudin M.PdI
Sekretaris 1                                 : Andis Salahudin S.IP, M.Si
Sekretaris 2                                 : Jajat Munajat S.Sos

Bendahara Umum                       : Neni Triani
Bendahara 1                                : Dede Mulyati S.PdI
Bendahara 2                                : Drs. H. Nasihin
LEMBAGA-LEMBAGA

  1. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (LPPTKA)
Direktur Daerah                  : Nuki Anwar Sidik
Sekretaris Daerah               : Agus Marwan S.PdI
Bendahara                          : Imas Mastini S.Pd

  1. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Da’wah dan Sumber Daya Manusia (LPPDSDM)
Direktur Daerah                  : Leni Yurlaeni S.Sos          
Sekretaris Daerah               : Yudi Hermawan S.PdI, M.PdI
Bendahara                           : Helmi Ali Akbar S.PdI

  1. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ekonomi dan Koperasi (LPPEKOP)
Direktur Daerah                  : Tatang Ruhiyat      
Sekretaris Daerah               : Iing Agus Salim S.Pd
Bendahara                           : Agus Syarifudin S.PdI

  1. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Sakinah (LPPKS)
Direktur Daerah                  : Drs. Rifa’I Marlaut  
Sekretaris Daerah               : Oba Badriah S.PdI
Bendahara                          : Aah Suswati S.PdI

  1. Lembaga pemberdayaan dan Penguatan Kesehatan Masyarakat (LPPKM)
Direktur Daerah                  : Iwan Rosnawan
Sekretaris Daerah               : Ali Rosyid
Bendahara                          : Imas Masriah

  1. Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi (LBHA)
Direktur Daerah                  : Ajat Sudrajat S.Sos
Sekretaris Daerah               : Husna Mustofa S.HI
Bendahara                          : Deni Haryanto S.Sos

  1. Brigade BKPRMI                
Komandan Daerah             : Iif Syamsul Ma’arif S.Pd
          Sekretaris Daerah                : Drs. Aep Saepudin M.Pd
          Bendahara                           : Erwin Saputra S.HI


TIM FORMASI
KEPENGURUSAN DPD BKPRMI KOTA TASIKMALAYA
PERIODE 2014-2018

NO
NAMA
JABATAN
TANDA TANGAN
1
HERYANTO S.HI
KETUA

2
DRS. H. YEYEN MUNAWAR RZ
ANGGOTA

3
TATANG RUHIYAT
ANGGOTA

4
YUNAN HUSNIAN ZAINI
ANGGOTA

5
SONI SONAGAR S.Ag
ANGGOTA


PELAKSANAAN MUSDA BKPRMI KOTA TASIKMALAYA :
Hari/Tanggal  : 16-17 Desember 2014
Tempat         : GDI Tasikmalaya
Waktu           : Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai

Monday, 29 December 2014

peranan guru pembelajaran usia dini



A. Peran Guru Dalam Pendidikan Anak Usia Dini Belajar adalah suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Di Indonesia pembelajaran pendidikan prasekolah lebih bersifat akademik, di mana anak lebih banyak duduk di bangku dan harus tertib seperti di sekolah. Jarang guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berksplorasi, mengekspresikan perasaannya, dan melakukan sendiri apa yang mereka minati, sampai menemukan pemecahan masalah sendiri. Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran, antara lain : 1. Guru berperan sebagai pengajar Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut. 2. Guru berperan membelajarkan anak Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yanga ada dalam pikirannya Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh (Tini Sumartini, 2005 :47) B. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini Orang tua sebagai guru alamiah akan mampu melihat dan mengerti serta menanggapi kemauan anak. Melalui berbagai komunikasi serta interaksi dengan orang tua akan terbentuk sikap, kebiasaan dan kepribadian seorang anak, selain itu ada pula faktor lingkungan yang secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan anak, seperti halnya dengan kebudayan. Kebudayaan (culture) secara tidak langsung ikut mewarnai situasi, kondisi ataupun corak interaksi di mana anak itu berada. Selain faktor-faktor di atas, faktor agama juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi dan kebiasaan anak. Salah satunya adalah anak mulai tahu tentang kebersihan, yakni dengan melakukan buang air di tempat yang biasa dilakukan oleh orang tuanya. Pendidikan anak usia dini, suatu pembinaan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalm memasuki pendidikan lebih lanjut. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang kedua setelah pendidikan keluarga. Maka dari itu sekolah mempunyai peranan penting untuk meneruskan dasar-dasar pendidikan keluarga. Pada umumnya sekolah merupakan tempat anak didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, pengetahuan, keterampilan sehingga anak didik akan mendapat bekal hidup kelak bekerja di lingkungan masyarakat luas. Anak usia dini pada hakikatnya adalah manusia yang memerlukan bimbingan, secara kodrati seorang anak sangat perlu pendidikan dan bimbingan dari orang dewasa. Masyarakat sebagai lingkungan terbesar dalam kehidupan, berguna untuk melatih jiwa anak dalam bersosialisasi terhadap masyarakat, seperti bermain dan bergaul. Yang harus diperhatikan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak misalnya anak yang terdidik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa akan cenderung menjadi manusia yang religius pula. Lingkungan dan keluarga sebagai pendidikan kedua setelah sekolah, orang tua memiliki peran yang cukup strategis dalam membantu guru memaksimalkan proses pembelajaran bagi anak-anak usia prasekolah. Dalam menyikapi berbagai perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat dalam masyarakat, maka orang tua harus memiliki pegangan edukatif dalam menciptakan suasana pembelajaran. Tugas pokok orang tua yang dapat diberdayakan guru dalam meningkatkan perannya adalah : 
1. Memberi nama yang tepat. Pemberian nama akan memberi identitas kepada anak. Dengan berbagai kemajuan dan perubahan sosial nama anak semakin baik dan beragam, namun identitas keklaminan justru sangat penting. 
2. Kebiasaan memberikan pakaian yang sesuai. Berikan pakaian yang sesuai dengan anak agar nantinya Orangtua tidak bingung dengan kebiasaan anak yang kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan akibat dari seringnya memberikan pakaian yang tidak sesuai. 
3. Pemilihan warna yang tepat, sebab warna dan motif juga sangat berpengaruh terhadap identitas kekelaminan. 
4. Pengembangan hobi yang menunjang. Kecenderungan biasanya terbaca sejak kecil sehingga pengembangan hobi yang sesuai akan memberikan bekal yang baik untuk perkembangan anak.
5. Memberikan batasan-batasan, aturan-aturan dengan bimbingan yang tepat 
6. Memperhatikan tugas dalam rumah tangga. Secara tidak langsung anak akan memperhatikan dan mengerti tugas dan peran yang harus dimainkan.


cita-cita bkprmi



CITA-CITA BKPRMI
  1. Memfungsikan masjid sebagai pusat ibadah,perjuangan dan kebudayaan ummat demi kejayaan ISLAM DAN NEGARA INKDONESIA.
  2. Melahirkan pemimpin-pemimpin yang berahlak mulia (Akhlaqul Karimah) 
  3.  Mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam semangat ukhuwah islamiyah
  4. Mewujudkan masyarakat saling menyayangi (Marhamah) dengan berpegang teguh pada nilai-nilai islam

CITRA KADER BKPRMI
  1. Muwahid ( Pemersatu ) potensi umat, diantaranya: Ulil Albab ( potensi pemikiran ), Ulil Amwal ( Potensi Harta ), Ulil Anfus ( Potensi Pengabdian/Sukarelawan ), Ulil Absor ( Potensi Pengamat/Peneliti ), Ulil Amri (  Potensi Pemerintah ).
  2. Mujahidin ( pejuang )
  3.  Musyadid ( pelurus ), meneruskan dan meluruskan tradisi-tradisi perjuangan umat yang ada (Memelihara Dan Merumuskan Tradisi Yang Baik Dari Terdahulu Dan Mengambil Tradisi-Tradisi Yang Lebih Baik Sesuai Dengan Perkembangan Zaman).
Nilai dasar perjuanagan bkprmi
  1.   Kekuatan akidah dan ibadah
  2. Semangan ukhuwah islamiyah  
  3.  Selalu ada dalam gerakan da’wah 
  4. Ke-ikhlasan
  5. Kesetaraan dan jaringan
Muaddib ( pendidik), mencerdaskan ummat
Mujadid (pembaharu) adalam metode, pola fikir, taktik dan strategi dalam perjuangan pengembnagan islam
Ada tujuh golongan yang mendapat naungan alloh SWT di akhirrat nanti yaitu : pemimpin yang adil, anak muda yang mengabdi kepada alloh swt, hatinya selalu terpaut dalam masjid, 2 orang yang selalu mengasihi karena alloh, seorang laki-laki yang menolak rayuan waniuta cantik karena alloh, merahasiakan dalam bersedekah, mengingat alloh sampai mencucurkan air mata terutama dikala sendiri  

Friday, 26 December 2014

Kepemimpinan Dalam islam

Kepemimpinan dalam Islam Menurut Al Quran dan Hadist
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan persoalan keseharian dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berusaha, berbangsa dan bernegara. Kemajuan dan kemunduran masyarakat, organisasi, usaha, bangsa dan megara antara lain dipengaruhi oleh para pemimpinnya. Oleh karena itu sejumlah teori tentang pemimpin dan kepemimpinanpun bermunculan dan kian berkembang.

Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, telah meletakkan persoalan pemimpin dan kepemimpinan sebagai salah satu persoalan pokok dalam ajarannya.

Beberapa pedoman atau panduan telah digariskan untuk melahirkan kepemimpinan yang diridai Allah SWT, yang membawa kemaslahatan, menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat kelak.

Sejarah Islam telah membuktikan pentingnya masalah kepemimpinan ini setelah wafatnya Baginda Rasul. Para sahabat telah memberi penekanan dan keutamaan dalam melantik pengganti beliau dalam memimpin umat Islam. Umat Islam tidak seharusnya dibiarkan tanpa pemimpin. Sayyidina Umar R.A pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa taat”.

Pentingnya pemimpin dan kepemimpinan ini perlu dipahami dan dihayati oleh setiap umat Islam di negeri yang mayoritas warganya beragama Islam ini, meskipun Indonesia bukanlah negara Islam.

Allah SWT telah memberi tahu kepada manusia, tentang pentingnya kepemimpinan dalam islam, sebagaimana dalam Al-Quran kita menemukan banyak ayat yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah: 30)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Ingat komunitas malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah SWT dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa: 59)

Ayat ini menunjukan ketaatan kepada ulil amri (pemimpin) harus dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT dan rasulnya.

Tugas Pemimpin

Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah". (Al-Anbiya’: 73)

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami". (As-Sajdah: 24)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

“Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8)

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (An-Nisa’ : 58)

” Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs Shad: 26)

Dalam sebuah kesempatan, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu.

Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)

Memilih Pemimpin

Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara.

Oleh karena itulah Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang baik dan beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”(QS. 60. Al-Mumtahanah : 1)

“Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zalim” (At Taubah:23)

“Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali (teman atau pelindung)” (An Nisaa:144)

“Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun…” (Ali Imran:28)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman". (Al-Maidah: 57)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin(mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim ” (QS. Al-Maidah: 51)

Akibat

"Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)". (al-Ahzab: 67)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”(QS.Ali ‘Imraan :149-150)

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”(QS. An-Nisaa’ : 138-139)

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”(QS.Al-Maa-idah : 80-81)